Jika ini ramadhan terakhir, saya tidak akan menyia-nyiakannya. Ahh, bukankah seluruh ramadhan memang tak selayaknya disia-siakan...?! Dia terlalu istimewa, tak pantas diperlakukan biasa. Setiap yang beriman pasti merindukannya, rindu keberkahan dan janji bonus pahala berlipat-lipat ganda di dalamnya. Yap, inilah bulan yang mengali-lipatkan balasan atas setiap amal kebaikan. Inilah hadiah Sang Maha Pemurah atas umat Rasulullah yang sangat terbatas usianya. Usia kita, umat Nabiyullah Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam adalah yang paling pendek dibandingkan umat-umat sebelumnya. Dengan usia yang maksimal berkisar 63 tahunan atau paling lama usia 100-an, kesempatan beramal kita tak mampu menyaingi umat nabi-nabi terdahulu, usia nabi Nuh bahkan hampir menembus angka seribu.
Saat petang menjelang, sepeda motorku baru saja masuk kandang. Kucium bau seperti sangit, mirip bau mesiu kah...? Ah, tentu itu imajinasiku yang berkhayal tinggi, yang ada adalah mesin motor kepanasan. Hampir dua bulan tak pernah diperhatikan, dimandi pun jarang, kasihan.... Tuannya terlalu sibuk akhir-akhir ini, tak banyak peduli dengan isyarat si kuda besi yang terkadang letih digeber tiap hari. Sesekali mati mesin, masih juga diabaikan. Sabar ya, masih ada satu agenda besar pekan ini. Pfhfh...
![]() |
| Pixabay |
Hai rumah hati, maafkan aku lama tak menjumpaimu, padahal ada banyak cerita yang ingin kubagi padamu. Bukan karena malas atau enggan, tahu kan...? Aku selalu ingin sempurna, menyiapkan cerita terbaik untuk kututurkan. Tapi tak ada. Tak pernah ada hal yang sempurna untuk dikisahkan. Hm... kali ini apa yang akan kita bahas? Tentang rindu...? Tidakkah penyimak akan bosan dan jengah...? Hhh... sepertinya aku seorang penutur yang sedikit egois juga sulit move-on. Benar, bercerita tentang rindu bagiku tak ada habisnya. Tapi bukankah kita memang kerap rindu? Pada banyak hal, entah masa lalu atau masa depan. Seperti kali ini, aku merindukan menjadi sosok kecil yang berlarian tanpa rasa bersalah, tanpa beban. Sedang di masa itu, mungkin aku pun mulai belajar merindukan. Rindu segera menjemput dewasa demi mewujud-nyatakan cita-cita.
Pfhfh, manusia... manusia.... Sudah hakikat jiwanya kah? Kerap kali mendambakan apa yang terlepas atau belum dimilikinya. Lupa bersyukur atas keadaan nyata yang tengah dijalaninya. Bodoh tentang angan-angan yang sering menipunya. Tak tahu, bahwa tak semua keinginan, ketika telah menjadi kenyataan akan serta-merta menjadi kebaikan untuknya. Tak jarang, harapan yang nyata itu justru menyisakan kekecewaan.
#pelajarankecil
![]() |
| pixabay.com |
Sudahlah, aku pun begitu kawan. Kerap kecewa, pernah diliputi amarah. Celakanya, rasa itu tak hanya mengarah pada orang lain, tapi juga pada diri ini sendiri. Bayangkan bagaimana akibatnya? Jika rasa itu ditunjukkan pada orang lain, ia bisa melukai. Maka memendamnya dan menghujani diri dengannya pun menyebabkan luka. Lalu yang terjadi adalah luka yang bertambah.
Sudahlah, sekali-kali aku pun masih seperti itu kawan. Sulit melupakan. Di saat-saat tertentu, lupa adalah obat penenang bagi kesalahan. Entah kesalahan orang lain pada diri, atau kesalahan diri sendiri pada diri.
Ingatanku merayapi lorong waktu, menembus dekade menemui masa lalu. Tertegun di sana dan terbata mengeja, entah kata apa yang menguasai jiwa, rindu atau benci kah? Kulihat sesekali keduanya sama, saling mengalahkan, bersaing satu sama lain pada diri. Andai bukan karena iman, maka sebagian besar ingatan adalah tangisan atau penyesalan. Kerinduan yang ditangisi, kesedihan yang disesali, kesalahan yang dibenci.
Pada kebingunganku
Pada kegelisahanku
Pada ketakutanku
Pada kekecewaanku
Pada amarahku
Pada dendam yang masih menyisa sekam
Pada seluruh inginku
Pada mimpi-mimpiku
Pada keluh-kesahku
Pada segala rasaku
Pada jatuh dan bangkitku
Pada seluruh yang kulalui
Yang terdengar, terlihat, tersembunyi
Segalanya di bawah kuasa-Mu
Segalanya kubiarkan luruh, rapuh lalu bersandar padaMu
Rabbku, Engkau Satu-Satunya Penawar
Watampone, dikejar Deadline.
Mungkin benar, jiwa yang terluka itu akan lebih mudah melukai siapapun. Dia yang merasa tak pernah dimengerti. Dia yang merasa diperlakukan tak adil. Dia yang merasa telah berusaha menjadi seorang yang baik-baik, namun diabaikan. Dia berdiri di sudut yang tak terlihat, atau hanya terlihat ketika tindakannya dianggap tak sesuai harapan. Namun dia tak bernyali untuk bersikap yang tidak-tidak. Awalnya menerima semua perlakuan itu sebagai kewajaran, meski tak semua orang diperlakukan demikian. Lalu, pelan-pelan ketika bertambahnya usia dan pengetahuan, membuatnya sadar akan sedikit ketakadilan itu, dia melakukan perlawanan. Di dalam hatinya. Dia mengingkari, dengan terus bertanya, menggugat dalam hati. Masih, masih dia seorang anak baik-baik sementara itu.
(cont.)





