Pagi adalah bagian hari yang paling damai. Aku memulai rutinitas dengan shalat subuh lalu mandi. Jika persediaan air di rumah menipis, kami harus cepat-cepat menuju sumur umum di tengah desa. Sebelum hari terang biasanya kami tiba di sana. Jika matahari telah menyingsing, sumur akan mulai ramai dengan penduduk desa yang juga hendak mandi, mencuci pakaian dan mengambil air. Meskipun cuaca masih dingin, air sumur di waktu subuh menjelang pagi terasa lebih hangat. Entah karena apa, tapi aku jadi lebih suka mandi di sumur sebelum matahari terlihat di timur.
Pfh..., subhanallah... seharian ini mood kurang baik, nyeri di perut bak ombak lautan yang datangnya pasang surut. Mo ngapa-ngapan bawaannya malees bangeet. Ngga ada pilihan selain membuka laptop mungil ini, mengintip beranda rumah hati yang mulai berdebu karena jarang dikunjungi, hiks. Ayo Menulis...! Writing to healing! Kali aja nyeri perut dan moodi-nya bakal hilang, aamiin.
Nulis apa ya... 😪... tik-tok-tik-tok-tik-tok...😖 *mikir kerass... 😓 😥 hm... 🙇 Okay! 🙆
Kita (lagi-lagi) akan sedikit melow kali ini, karena kita akan berbicara tentang "Cinta, Sahabat dan Keramaian." Judul yang syahdu dan... sedikit aneh ya! Hehe, tentu ada alasan dibaliknya.
Tahun-tahun berlalu, meninggalkan serangkaian cerita di masa lalu. Diantaranya..., sepenggalan kisah yang selalu manis untuk dikenang. Dan kali ini, aku ingin mengenang semangat sang jiwa muda yang penuh gairah di awal hijrahnya.
Tarbiyah, Tahsin (belajar tajwid), dan Ta'lim..., adalah 3T yang menjadi rutinitas pekanannya. Ta'lim pun tak cukup satu, ada banyak ta'lim pekanan yang tersebar di kota 'Serambi Madinah' itu. Bisa milih sesuka hati, entah di kampus sendiri atau kampus tetangga. Menghadiri hingga tiga ta'lim dalam sepekan masih termasuk hitungan yang wajar.
Tak cukup dengan aktivitas menuntut ilmu dunia (baca: kuliah) dan akhirat (3T) tersebut, agendanya pun padat dengan tugas sebagai aktivis kampus, tujuannya berbagi ilmu agama, setidaknya mengambil peran sebagai perantara dan penyedia sarana lewat kajian pekanan yang menghadirkan pemateri dari kalangan senior dengan mahasiswi kampus sebagai sasarannya.
![]() |
| filckrdotkom |
Masih ingatkah engkau...? masa kecil dahulu... yang berhujan mimpi-mimpi indah tentang esok hari. Kita namai dengan "Harapan di Masa Depan".
Hey..., mengapa tak diberi judul "Cita-citaku..." saja...? Bukankah kata-kata itu yang lumrah kita ucapkan dulu...?!
Tidak. Cita-cita adalah sebutan untuk sebuah profesi, hanya tentang bagaimana kita akan 'menjadi'. Itu baru segelintir atau sebagian dari mimpi-mimpi besar kita. Mimpi yang indah dan mewah, benak kecil kita membayangkan mudahnya saja, sama sekali belum menyangka dinamikanya yang tak terduga untuk mewujudkannya.
Jadi, apa saja mimpi-mimpi indahmu dulu, Kawan...?
Mungkin tak akan sama. Tergantung bagaimana kehidupan kecil itu kita lalui dulu. Apa yang kurang atau tidak kita dapatkan waktu itu, kemungkinan besar akan teregistrasi dalam list mimpi kita, dengan sistem otomatisasi di otak masing-masing (haahh..!).
Masih hangat dalam ingatku kawan, kala itu, bergegas kita bangun di pagi yang dingin, membelah sunyi menyusuri jalan berumput yang masih basah oleh embun, membasuh tubuh kecil yang gigil dengan setimba air sumur atau limpahan sungai yang mengalir jernih.
Pagi selalu segar dan damai. Pada secangkir teh semangat itu dimulai, meski lain perkara..., jika kita sedikit abai mengerjakan PR atau tugas-tugas ekstrakurikuler dari guru yang kita hormati. Ah, tugas ekstrakurikuler, hanya aku yang menamainya begitu dan... ide itu baru kudapat kawan, bagaimana tidak, tugas yang kumaksud memang benar tak ada sangkut pautnya dengan kurikulum sekolah. Mengumpulkan seikat besar kayu bakar, kualitas terbaik bisa kita peroleh di tengah-tengah hutan, tak lupa melabelinya dengan sobekan kertas bertuliskan nama dan kelas. Mengingat ini rasanya kuingin meminta maaf pada ibu guru, kayu yang kutemukan kualitasnya rendah, hanya kayu lapuk yang kukumpulkan bersama seorang teman di pinggiran sungai.
Speaker masjid (bukan, tapi suara yang keluar dari speaker....) meningkahi senja yang gerimis. Tanah-tanah basah, dilimpahi hujan yang bersusulan beberapa hari ini. Senja lebih cepat gelap dan dingin dibuatnya. Angin lembut bertiup-tiup, entah penjuru mana yang ia tuju, dedaunan meliuk-liuk tak menentu.
Ini masih seputar harta karun (tumben bu, tekun nian memanjangkan bahasan, biasax kutu loncat, he...). Pasalnya, terakhir cek si "Little Dragon", keadaannya sungguh memprihatinkan. Benar-benar lusuh, mulai kabur dan banyak sobekan. Dan sebelum ia dibumihanguskan oleh waktu, ada beberapa rekaman tinta yang perlu diselamatkan. Kutitipkan ia di sini, liris theme.
Aku terhenyak begitu melihat barang yang disodorkan adik. Oleh-oleh pulang kampung yang begitu mendebarkan. Sebuah diari dan beberapa buku tulis usang yang nyaris tak kukenali. Jika begini, memoriku kerap menyambar perkataan Nasli, suatu hari di kelas IPA, dengan nada sarkastis.
"Kamu tuh ya, gak pernah jelas catatanmu pada kemana...." Hanya bisa kubalas dengan cengengesan.
Pernahkah kamu berpikir, kamu akan bertanya seperti ini:
Siapa aku? Mengapa aku ada di dunia ini? Apakah dunia tidak akan lengkap tanpa kehadiranku? Mengapa aku harus berada di dunia ini? Mengapa aku tidak menjadi bagian dari bayi-bayi tak berdosa yang mati muda? Mengapa aku merasakan sakit dan cemas, rindu dan harap, benci dan sayang?
Mimpi di siang bolong, bukan pameo, tapi ini benar sering kualami. Seperti siang tadi, sebuah mimpi menemani tidurku yang singkat. Durasinya kurang dari satu jam.
Ada ibu di sana. Berdiri di samping saat kubuka sebuah buku lagu, tengah mencoba menyenandungkan tembang lawas. Sayang, iramanya belum tepat. Ibu dengan sigap, dengan suara yang masih merdu, menyanyikannya tanpa melirik teks. Aku lantas terdiam, menyimak nada-nada yang mengalun dari mulutnya, sembari menekuri kata demi kata setiap baris syair. Sebagaimana dahulu. Kebiasaanku bersama ibu saat hanya tinggal berdua dalam masa yang lama. Masa kecilku.
Hidup penuh liku yang tak mampu diterka
Kemarin..., adalah masa lalu yang menjadi kenangan
Hidup penuh deru, mengeras, mengganas....
Menata ketegaran jiwa yang lemah
Berputar dan berbalik arah
Menciptakan dimensi yang berbeda
Hidup penuh liku
Meninggalkan jejak lama, menggaris alur tak sama
Elegi terbalur sepi, terpendam
Menjemput suratan-Nya
Dia, sebut saja Ra. Seorang teman yang berasal dari bagian selatan kabupaten. Dialeknya sedikit tak biasa bagi orang kota. Meskipun masih dalam wilayah yang sama, setiap distrik desa memiliki gaya verbal yang berupa-rupa. Satu dengan yang lainnya tak jarang saling mencela. Orang kota merasa lebih keren logatnya. Tapi begitu ke pelosok desa, penduduknya tak mau kalah, bahkan sampai punya olok-olokan khas buat menyindir gaya bicara orang kota yang dianggap lebay luar biasa. Ah, aku hanya bisa tertawa. Menertawakan logat kota jika tersesat di desa-desa. Menertawakan logat desa saat terkucil di belantara kota.
Hari itu, tak biasanya, saat aku menjemput salah seorang santri, sebut saja Nuri.
"Lewat jalan sini saja ustadzah..." tukas Nuri saat aku hendak berbalik ke arah sekolah, lewat jalan umum. Rupanya ada jalur pintas yang lebih dekat. Nuri pun dengan sigap memberiku instruksi, arah mana saja rute yang akan dilalui. Setelah melewati beberapa belokan kanan-kiri, sepeda motor ku pun meluncur mulus di jalan beraspal yang lumayan lurus. Dan disana lah kutemukan ia, lelaki tua itu. Pandanganku menangkap tubuhnya seorang diri di tepi jalan, bersimpuh di atas tanah, menghampar sejumlah kecil sayuran di hadapannya. Ia menatapku juga, tiba-tiba hatiku pilu. Ia akan melihat pada siapapun yang lewat di depan jualan kecilya. Seperti aku, yang saat itu hanya berlalu.
"Ah, bukankah aku sedang buru-buru," batinku. "Lagipula, mana aku tahu ada pedagang sayuran kecil di situ," kilahku.
Sejak itu bayangannya masih mengusikku. Kali pertama kulihat ia, tapi aku hampir saja menangis di buatnya. Tak bisa kulupakan, bayangan tubuhnya yang ringkih dan bergetar. Ya, tubuh kurus dan tua itu, dibalut helai pakaian yang lusuh pula, bergetar seolah menggigil. Seperti orang yang demam atau kedinginan. Mungkin juga karena tubuh tuanya di dera lelah termakan usia.
"Kemana sanak-saudaranya? Tak ada seorang pun kah dari kerabatnya yang bisa membantu menopang hidupnya, hingga tubuh tua yang bergetar itu terdampar di tepi jalan...?!" tak tahu pada siapa, kuajukan tanya dan gugatan.
"Mungkin sebaiknya, lain kali aku membeli sedikit dagangannya," dalam hati aku berjanji.
Hari kedua aku menjemput Nuri, dan aku masih butuh bantuan petunjuk anak itu, menembus lorong-lorong sempit yang tak bisa segera kukenali. Kali ini aku tahu, akan melewati jalan dimana lelaki tua itu berjualan. Ia masih di sana, di hadapan hamparan dagangan sayur yang tak seberapa. Masih dengan tubuh tuanya yang bergetar. Dan aku berlalu, lagi. Kusesalkan diriku yang tak bisa segera mengambil keputusan untuk sejenak berhenti. Dijepit antara keinginan segera tiba di sekolah, dan sedikit insting motif ekonomis yang menanyakan, "mengapa seolah tak ada yang membeli", atau "mengapa hanya sedikit yang ia jual"... Pikiranku masih berdiskusi, dan bayangannya telah mengabur di belakangku.
"Argh... tidak, lain kali aku harus membeli dagangannya, tak peduli apa yang ia jual, tak peduli pembeli tak ramai," Kali ini aku tegas berjanji. Gemas pada diri.
Lelaki tua itu, entah bagaimana kabarnya kini. Entah, apakah jualan sayurnya yang beberapa biji ada yang membeli? Telah lama aku tak melewati jalan itu lagi, sejak aku berjanji. Aku tak lagi menjemput Nuri yang menunjukkan jalan tempatnya berada. Dan aku masih menyesali, mengapa tak membeli, sekadar dua-tiga buah dagangannya.
Lelaki tua itu, seorang diri berjualan sayur di tepi jalan yang pernah kulalui. Jalan yang tak ramai, sebab letaknya di lorong sebuah perumahan yang kecil. Tak banyak dilewati. Dan aku masih dibayang-bayangi, tubuhnya yang ringkih dan bergetar. Pilu.
Hari itu, aku dan beberapa teman dan sebagian warga desa, mengangkut pasir dari sungai yang jaraknya ratusan meter. Ada warga yang sedang membangun rumah. Seperti umumnya warga lain, mereka akan mengupah siapapun yang mau mengangkut pasir dari sungai. Di desa kami, pasir melimpah di bantaran sungai. Tinggal membawa wadah seperti ember, mengeruk pasir di tepian atau jika perlu menyelam sambil menggaruk pasir di dasar sungai. Tak perlu khawatir bakal tenggelam, anak-anak desa bahkan yang lebih kecil dariku biasanya pandai berenang, kecuali aku :( Kabar baiknya, aku justru lebih bisa menyelam daripada berenang. Tapi sungai yang kami tuju pun rata-rata masih dangkal, jadi cukup aman.
Kadang-kadang, ada buncahan rindu tertahan, pada tanah kelahiran yang telah bertahun-tahun kutinggalkan. Sisa hujan sore ini semakin menguatkan kerinduanku. Terkenang dengan musim-musim hujan yang kulalui di rumah 'kaki bukit' ku semasa kecil. Nada hujan yang masih sama, dengan tetesnya yang syahdu berirama. Membawa ingatanku mengembara di masa lalu... memandangi hijau tetumbuhan yang semakin segar kala diguyur limpahan air langit, juga beberapa jenis bunga hasil jerih tangan kecilku, mekar merona indah.
Sunyi dan dingin membuatku seakan tak bisa berkutik. Berdiam diri menatapi hamparan hijau di sekeliling rumah, atau meresapi sepi yang menggugah galau. Di sudut kiri teras, eh kanan bawah, hampir selalu bisa dipastikan air meluap dari sumur buatan yang imut-imut di sana.
Ah... seperti apa kampung halamanku sekarang? Aku hanya tahu sedikit tentangnya kini, dari kabar-kabar yang dibawa kerabat. Katanya, jalanannya telah diperbaiki. Anak gadis bahkan berani mengendarai motor. Aku tahu, itu berarti tak ada lagi tanah cadas berbatu, berlubang dan curam. Yang setiap kali aku melaluinya, setiap itu pula mulutku tak henti merapal doa dan surah apa saja, sekenanya, hingga motor yang membawaku tiba di jalan yang lapang. Perjalanan yang melelahkan dan beresiko. Perjalanan yang hampir merenggut nyawa kami dulu.
Ah... seperti apa rumah panggungku di kaki bukit itu, kini...? Bagaimana dengan kebun yang tak ubahnya kantor kedua ayah? Mungkin belukar telah menyelimutinya dan mengubur kehidupan hijau yang kami akrabi dulu.
#homesickness, 20102009
Ada sejentik sesak di dada ini. Kala kilasan memoar berputar dengan cepat. Membawaku kembali pada masa-masa itu. Kau dan aku, sepintas seolah satu. Hampir setiap jengkal halaman sekolah, kususuri bersamamu. Dimana ada kau, disitu pun diriku berada. Jika kamu tak datang sekolah karena sakit misalnya, aku seolah kehilangan mainan dan bingung akan berbuat apa. Hm... romansa pertemanan ala-ala ABG yang indah. Tapi pertemanan kita pun tak selamanya indah. Beberapa kali kita sempat perang dingin. Berdamai adalah kata yang sulit, sekalipun sebetulnya telah saling memaafkan, karena kita sama-sama keras kepala. Untungnya hal itu jarang terjadi, mungkin karena kita berusaha menghindarinya *mengingat susahnya mengajukan kata 'maaf'' ^_^.
Banyak cerita dan momen-momen tak terduga yang kita lalui bersama. Tapi aku menyangsikan, apakah saat itu kita bisa disebut sahabat? Sekalipun kita seolah...satu kesatuan yang tak terpisahkan (dalam wujudnya), nyaris tak pernah ada curhat apalagi perbincangan dari hati ke hati. Tapi sudahlah, bagaimanapun kita masih kompak dalam banyak hal.
(to be fin)















