Ayyash
By Ummu Thufail - Juni 18, 2026
Bismillah.
23 Mei 2026. Setelah melewati masa-masa kehamilan yang tidak mudah, akhirnya lahirlah Ayyash-ku dengan durasi persalinan yang cepat namun tetap dengan rasa sakit yang luar biasa (next masa hamil-ngidam-bersalinnya kita cerita kapan2 ya...). Alhamdulillah alaa kulli haal, dibanding persalinan kakak-kakaknya, kelahiran Ayyash yang terbilang lebih minim drama meski harus diinduksi juga seperti Thufail rahimahullah (hai Thufail-ku sayang, sekarang kamu punya adik, hiks rasanya sedih campur haru menuliskan ini).
Ayyash lahir di bulan kelahiranku, bersamanya lahir pula harapan agar ia tumbuh sebagaimana kebaikan di balik makna namanya, aamiin ya Mujiibassa'ilin. Juga, harapan agar ia menjadi pelipur hati kami yang telah kehilangan Thufail. Sepotong hati kami seolah turut pergi bersama kepergian kakaknya itu, dan ada potongan yang rekat kembali dengan kehadiran Ayyash, meski tetap tak utuh sebagaimana sebelumnya. Kehilangan tetaplah kehilangan, tak ada kehadiran atau apapun yang bisa menggantikan seutuhnya.
Hari-hari bersama newborn pun dimulai. Rasanya seperti dari 0 lagi atau mungkin dari angka 1. Khawatir kembali menghantui saat si kecil rewel. Tak jarang timbul rasa panik saat tak berhasil menenangkannya dengan segera. Bingung harus bagaimana dan si kecil rewel karena apa. Apakah kembung, kolik, kurang ASI...? Dan seterusnya... dan seterusnya....
Hari ini belum genap sebulan, mungkin masih harus bersabar menghadapi drama punya anggota keluarga baru. Akhir-akhir ini Ayyash sering gumoh. Mengikuti tips dan insight info medsos kadang membantu kadang juga sebaliknya, menambah overthinking dan makin mengacaukan. Seperti semalam, biasanya Ayyash rewel di waktu awal malam, berikutnya akan kembali tidur dan hanya terbangun untuk ASI. Setelah menyusuinya dengan posisi berbaring seperti biasa, kugendong Ayyash dan berusaha menyendawakannya dengan posisi berdiri/tegak menghadap badanku. Sesuatu yang tak kulakukan di malam-malam sebelumnya (ini karena mengikuti anjuran menyendawakan bayi sehabis menyusui). Alhasil, Ayyash terbangun rewel dan menangis cukup kencang. Butuh beberapa waktu untuk menenangkannya kembali (sembari membatin, gak lagi-lagi deh 100% patuh sama tips di media, tetap perhatiin sikon dan dengar feeling).
Btw, ini tulisan kemarin yang tertunda. Besoknya, durasi dan masa rewel Ayyash berubah lagi. Dari sore, bersambung beberapa episode hingga waktu Isya. Alhamdulillah-nya kuota energi masih tersisa lumayan. Jika tidak, biasanya aku akan sangat badmood dan menyebar kemana-mana termasuk jengkel ke suami. Nilai rapor/ulangan siswa belum juga kelar-kelar. Pfhfh....
Mmm... Kembali ke Ayyash-ku. Kapan hari saat menyusuinya, mataku basah. Rasanya campur aduk kala memandangi wajah mungilnya lekat-lekat. Seolah Thufail rahimahullah terlahir kembali. Tidak, tentu tak ada reinkarnasi di dunia ini. Hanya saja, wajah dan gelagatnya terlihat sangat mirip. Ya, tentu karena keduanya saudara kandung. Ada haru menyeruak di dada. Segala puji bagi Allah yang menghibur hati kami dengan kelahiran Ayyash. Ya, walaupun menghadapi bayi baru lahir masih terasa menegangkan dengan segala dramanya. Di atas semua rasa dan kelelahan, aku tetap bersyukur. Kehadirannya jauh lebih berharga bagi kami. Semoga dilimpahi keberkahan, kesehatan, umur panjang dan keberuntungan. Aamiin
0 komentar