Bagaimana bisa kujelaskan segenap rasa di dada ini. Ada sesak yang menyeruak, bagai lava yang membuncah.
"Thufail, kamu di mana Nak? Ummi ingin menggendongmu, meninabobokanmu..." Gumam hatiku pedih.
"Thufail, Ummi kehilangan kamu. Tak ada yang bisa menggantikan kehilangan ini, meski seisi dunia datang ingin mengganti..."
Hati ummi tersayat-sayat Nak, mengingatmu, mengingat sakitmu, mengingat bubbling-mu, mengingat senyum manismu, mengingat gelak tawamu (engkau pernah tertawa bergelak-gelak saat ummi meletakkanmu di sajadah, setiap ummi rukuk dan sujud, apakah itu membuatmu senang nak...???).
Anakku sayang, betapa pedih hati ummi mengingat segala kenangan menemanimu di RS. Tangisanmu Nak, rengekanmu, jeritanmu. Ya Allah... Rasanya semua memori itu adalah mimpi buruk bagi kita Nak. Terakhir kita di Picu 2 hari, seolah sedang terdampar di tempat antah berantah, terasing dan kesepian di sana. Ah, bagaimana perasaanmu anakku sayang, jarang ummi menemanimu di ruangan dingin itu.
Thufailku, Thufailku sayang. Beristirahatlah engkau selamanya dari rasa sakit dan susah. Duhai jentik-jentik surgaku, bersenang-senang dan berbahagialah sekarang di surga. Ruh-mu bahkan tak menempati barzah. Sebab jiwamu yang suci tak lagi dihisab.
---
Anakku sayang, anak lelakiku...
Dulu betapa besar harapan ummi atasmu. Katanya, ngidam panjang sepanjang mengandungmu, mungkin tergantikan dengan kelahiran dan kehadiranmu. Lalu engkau mulai sakit-sakit, katanya, mungkin saja kelak jika agak besar tak lagi rewel sakit. Terkadang ummi juga berangan kelak engkau akan berdakwah di kampung etta dan ummi-mu. Namun nyatanya, semua harapan dan persangkaan itu tak sejalan dengan takdir yang telah Allah tetapkan untukmu Nak. Qadarullah. Alhamdulillah alaa kulli haal. Allah Tahu yang terbaik, Allah memberi (takdir) yang terbaik. In syaa Allah