Rindu mengembara mencari arah. Ah, tidak. Ia tahu arah yang ia tuju, hanya sedang mencari pertanda yang menuntun langkahnya. Agar tak sesat, sebab jalan kian sepi. Hanya tapak-tapak jejak, ditinggalkan kebanyakan pejalan. Mereka, memilih jalan yang ramai, lagi bising penuh suara, ditingkahi puja juga cela, ada banyak dusta. Ia tak suka, hati yang tak suka.
Kau pendosa. Kau penimbun dosa. Berapa usiamu sekarang? Ah, setinggi itu pula dosa yang kau kumpulkan, diantara sedikit kebaikan. Kau pendosa. Terimalah tuahmu sekarang.
Ada apa denganmu? Kulihat masih ada kebencian dan amarah yang berpendar di bola matamu.... Mengerikan, itu gambaranmu kini. Ada yang kau peram penuh dendam di balik diammu. Seperti bara dalam sekam, ah barangkali bukan, tapi lebih serupa lava panas dan merah dalam rahim merapi. Kau siap meledak kapan saja sesuatu mengguncang dalam dirimu. Kau bisa muntah sewaktu-waktu, laharmu hendak menyapuratakan kedamaian di sekelilingmu. Kau, menakutkan....
Ini masih musim penghujan. Tapi tetesnya tak juga mampu dinginkan hatimu yang mendidih. Bahkan sebagian pertanda hujan malah membuatmu berang. Gemuruh guruh, nada hujan yang deras bergelombang, membuatmu semakin gamang. Kau, ah... menyedihkan.



