"Afwan, sebetulnya yang kemarin saya ceritakan itu tentang saya. Suami mau menceraikan, alasannya beda paham... "
Aku terpana.
"Saya sekarang tidak pernah keluar. Malu karena dia menceritakan ke semua warga kalau dia mau menceraikan saya lalu menikah."
Duh, hati suaminya terbuat dari apa ya. Bertahun-tahun menikah, kini dua dari empat anaknya pun telah menikah. Semuanya ngaji dan yang bungsu mondok di pesantren. Tega amat si bapak meninggalkan anak isteri demi wanita lain.
"Anaknya sudah nasihati tapi tetap tidak mau dengar."
"Sudah sidang yang pertama dan sudah mediasi, tapi tetap mau lanjut."
Sang isteri sudah ngaji juga, ini jadi poin pertama gugatan suaminya.
"Tapi itu cuma alasan saja karena memang sejak dulu suka main perempuan, tapi saya sabar menghadapinya."
Aku semakin melongo membaca chatnya. Ya, ibu sabar banget. Jika aku yang di posisi itu akan kutinggalkan tanpa banyak pertimbangan. Tak ada alasan untuk bertahan. Jika si laki-laki sudah tak baik, berarti saatnya untuk dilepaskan. Laki-laki tak baik hanya untuk wanita yang tak baik juga. Aku ngedumel sendiri dalam hati. Sambil berusaha memberikan saran terbaik, memintanya banyak berdoa agar diberi takdir terbaik. Walau ingin rasanya kukatakan, lepaskan bu. Biarkan yang menyakiti itu pergi dan tak lagi meninggalkan duri.
Apakah memang seperti itu hati lelaki? Sebagian atau sebagian besarnya? Mudah berpaling?
Mata. Mata yang tak terjaga. Mengumbar pandangan ke segala arah, adalah pintu syaitan yang terbuka lebar. Bukankah Allah telah memerintahkan kepada setiap lelaki beriman, agar menundukkan pandangan dari segala yang diharamkan. Menundukkan pandangan membuat hati tenang. Lebih menjaga kehormatan.
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)
Sayangnya, banyak yang membiarkan liar pandangannya. Gadget pun menjadi sarana paling mudah melihat banyak hal, termasuk hal yang diharamkan. Dan kaum wanita yang telah hilang rasa malunya, meliuk-liukkan badannya di berbagai aplikasi, di tik tok dan semisalnya. Membangkitkan syahwat lelaki yang bukan mahramnya. Na'udzubillah.
....
Kuhela nafas yang terasa berat. Jodoh masih misteri meski telah menikah rupanya. Tak ada yang bisa menjamin sebuah rumah tangga berakhir bahagia dan berkumpul di surga. Jika kedua insan tak lagi saling menguatkan, jika salah satunya berpaling dan meninggalkan. Jika salah satu atau keduanya terseret pada keinginan hawa nafsu dan duniawi. Jika keduanya tak lagi saling mencintai, tak lagi saling menjaga dan menyayangi.
....
“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Ya, manusiawi alias sunnatullah alias wajar saja, jika suatu waktu kamu menemui kegagalan, tak mencapai target yang ditetapkan. Kita bukan Tuhan yang bisa menentukan. Maka maafkanlah dirimu, disaat-saat seperti itu. Disaat semua orang mungkin akan menyalahkan dan menyesalkan, mengapa begini, tak seharusnya begitu. Ya, maafkan, sebab jika kamu ikut-ikutan menyalahkan diri, siapa lagi yang bisa menyayangimu, menerima rasa bersalahmu?
Mungkin benar, sebagian besar kata mereka di luar sana, bahwa kamu kurang ini kurang itu, usahamu belum maksimal, kamu terlalu lalai misalnya. Sampai di sini, koma saja dulu, katakan saja dengan jujur bahwa ini bagian terburuk yang akan segera berlalu bi idznillah. Maafkan dirimu, lalu berjanjilah bahwa hari esok dan seterusnya kamu akan lebih berusaha lagi. Berusaha lebih baik dan lebih giat. Benahi kelalaian dan kesalahan kemarin. Deal...?
Bismillah. Assalamu'alaykum, Nak. Bagaimana kabarmu di dalam sana? Tumbuhlah sehat dan kuat ya. Bersahabatlah sedikit dengan ummi yang kurang stabil akhir-akhir ini. Ah, ummi... Akhirnya aku akan menyandang gelar itu, In syaa Allah. Gelar yang membanggakan bagi semua wanita di dunia. Ya, semua yang masih pada fitrahnya.
Walaupun, ummi masih rada bingung. Yah, bingung dengan semua rentetan kejadian yang rasanya berlangsung sangat cepat. Ummi belum menyadari benar apa yang tengah terjadi, dan semua berlangsung demikian cepat rasanya. Tiba-tiba menikah, tiba-tiba positif hamil. Ummi merasa masih di bawah umur untuk mengalami itu semua, haha. Ayahmu (ummi gak tahu si bapak mau dipanggil apa, ayah, abah, atau etta hehe) pasti geleng-geleng kepala tahu pikiran ummi kayak gini.
Eh iya, tentang panggilan um/ummi, sebelumnya tuh, musyrifah/ustadzah tempat setoran hafalan online selalu menyapa dengan kata "um" setiap chattingan. Biasanya ummi bakal refleks meralat orang-orang yang suka panggil "um", kan belum nikah dan belum punya anak. Tapi nggak tau kenapa, ummi males ngeralat, bahkan diam-diam menganggapnya doa, mengaminkannya dalam hati. Mungkin sekarang lagi diijabah sama Allah. Aamiin.
Hm... Rupanya tak mudah ya menjalani trimester pertama kehamilan. Kata teman, puncaknya di bulan ke-3. Semoga Allah memudahkan dan menguatkan. Ayo kerjasama yang baik, Nak. Tumbuhlah dengan sehat dan bersahabat dengan kondisi ummi. In syaa Allah tanggal 12 bulan depan kita ke klinik lagi. Kata dokter kandungannya kamu sudah harus tampak jelas saat di USG.
"Datang ya, meskipun tanggal merah." pesan dr. Rahma, SPOg.
Nak, maafkan ummi yang kadang masih suka uring-uringan. Menuruti laju mood yang swing kesana kemari. Itu tidak baik. Perubahan hormon yang drastis sedikit membuat ummi kacau. Maka, setiap ummi merasa gagal menstabilkan diri dan sedikit khawatir padamu, ummi akan memegang perut sebelah kiri (yang kata dokter itu posisi kantong kehamilan) dengan tangan kanan, mengucap dzikir agar engkau baik-baik saja. Aamiin allahumma aamiin.
Anakku, semoga kamu baik-baik saja, tumbuh dan berkembang dengan sehat hingga kelak lahir dengan selamat. Perjalanan yang masih jauh, tapi ummi sangat berharap bisa berjumpa denganmu. Kamu adalah doa ummi jauh sebelum ini. Semoga Allah mengijabah. So, bersahabat dengan ummi ya Nak. Tak mudah menjalani momen pertama ini tanpa ayahmu di sisi. Semoga Allah mudahkan urusannya dan mengumpulkan kita bersama dalam waktu yang dekat. Aamiin allahumma aamiin.
Bumi Arung Palakka, saat langit berkabut dan Covid-19 jadi trending topic dunia.
#writing_is_healing
Bismillah. Seperti mimpi, apa yang kujalani hingga detik ini. Rasanya masih tak percaya. Saat kudengar dari balik pintu kamar yang terkunci, suara lantang seorang pria mengucap ijab qabul, rupanya dia berusaha menutupi kegugupan dan segala rasa yang turut berbaur. Aneh, tak ada debar luar biasa kala mendengarnya. Mungkin karena aku masih tak percaya, tak percaya jika ini benar nyata. Jangan-jangan ini mimpi saja.
Tapi tidak. Segala yang kulakukan adalah nyata. Gaun yang kukenakan, buket di tanganku, ibu di samping yang menenangkan kekhawatiranku, semuanya nyata. Akhawat panitia yang hilir mudik sibuk menyiapkan segala sesuatunya, semua nyata.
Tanggal 25 Januari 2020 adalah saat yang paling bersejarah bagiku saat ini, meski sesekali seolah tak kusadari, semua yang kujalani sepanjang hari. Mengapa jantungku tak berdegup kencang mendengarnya. Dia yang mengulang ijab qabul hingga dua kali.
"Sah...!" Seru satu dua hingga semua orang di luar kamar. Tapi aku masih merasa biasa saja. Aneh. Benar-benar aneh. Kemana hilangnya rasa gugup dan cemasku?
Salah seorang panitia membuka pintu, meminta ibu yang duduk di sampingku untuk keluar, karena dia, yang telah berstatus suamiku akan memasuki kamar. Aku sedikit gugup. Rasanya benar-benar tak menyangka. Akhirnya dia, yang Allah takdirkan menemuiku.
Pintu kembali terbuka, dan dan kudengar salamnya yang pertama kali, setelah berubahnya status kami. Aku sedikit gelagapan, tapi seperti biasa aku pandai menyembunyikan dan menahan apa yang kurasakan. Tetap tenang dengan posisi duduk seperti semula.
(Bersambung)
Seolah aku melihat anak kecil itu. Anak perempuan yang bertumbuh dalam duka. Luka menjadi temannya, dibelit trauma. Masa kecilnya adalah ketakutan, kekhawatiran, kesedihan, rasa bersalah yang berlebihan, tekanan untuk menjadi yang terbaik atau ia tak akan berarti apa-apa. Ia tak boleh melakukan banyak kesalahan, tak boleh tampak memiliki banyak kekurangan, meski jika itu ada pada diri orang lain tak jadi masalah. Ia harus menjadi sosok yang diharapkan.
Tidurlah dengan lelap
Lupakan luka duka di hari silam
Jangan kau biarkan
Hatimu diremuk dendam



