Katanya aku tipe "Thinking", demikian hasil salah satu alat tes teman di suatu waktu. Aku melongo dan belum percaya, "Coba ulang deh Kak, kali aja salah..." dan tes itu diulang sekali lagi dengan hati-hati. Tetep, hasilnya thinking. Oh... ye lah, bukan kata Upin Ipin, tapi gumamku dalam hati. Masih belum yakin sih, aku lebih ngerasa cenderung "Feeling" karena sesekali merasakan perasaan yang lebih mendalam dari orang kebanyakan, atau mungkin "Intuiting" yang lebih dekat ke passion-ku, punya banyak minat, pecandu kata dan anti mainstream plus cepat bosan (tapi sekalinya minat, akan didalami terus). Ya... sebenarnya sih, setiap orang punya semua potensi atau tipe kecerdasan tersebut, tapi ada yang paling dominan dalam dirinya, kebetulan hasil tes nya nunjukin aku dominan thinking. So ada apa dengan thinking?
Bukankah hidup ini berawal dari mati? Kita bermula dari sesuatu yang tak ada dan tak bernama. Lalu Allah mengadakan kehidupan beserta segala sesuatu yang dibutuhkan untuk menjaga kelangsungannya. Menganugerahkannya bagi kita, manusia, yang dipilih dan dikehendaki menjalaninya. Masing-masing dengan batas waktunya selama di dunia.
Maka sekali-kali, bahkan semestinya kita selalu mengingat ini. Ingat mati. Tak perlu ngeri dan sedih membayangkannya, kecuali jika separuh besar hidupmu memang dipenuhi catatan kelam bernama dosa dan maksiat. Maka pada titik ini, mengingat kematian telah menjadi keharusan untuk membenahi "masa depan".
Awalilah hidup hari ini dengan kematian. Dan seluruh ingatan serta kesadaran tentangnya akan berubah menjadi pemantik bagi kehidupan. Setidaknya hidupmu hari ini, akan selamat dari kesia-siaan karenanya. Berpikirlah bahwa kematian itu telah dekat dan mungkin saja hari ini adalah bagian dari hari-hari terakhir yang tersisa. Apa yang akan engkau lakukan?
Bukankah, jika engkau menyadari bahwa hidupmu tinggal hari ini, misalnya, akan engkau lakukan apa saja yang berguna setelah kematian? Tak kan kau pelihara dendam bagi seseorang yang pernah menyakiti, karena kau tahu... memaafkan lebih berguna baginya dan bagimu juga. Tak ada rasa sakit atas celaan, karena kau tahu... dengan mengikhlaskannya, akan kau temui balasan yang lebih baik dariNya.
Ingatlah mati, lalu seluruh beban berat dan segenap kedukaan berubah ringan begitu saja. Engkau lebih memilih memikirkan dan menyiapkan bekal-bekal yang masih kurang untuk menghadapi Al-Maut.
Ingatlah mati, dan pupuslah rasa kecewa atas angan-angan dunia yang tak pernah sampai. Karena kau tahu pada akhirnya segala yang terikat dengan dunia akan sirna. Ada cita-cita yang lebih besar dari itu, yang kini ingin kau raih setelah kematian.
Ingatlah mati, maka engkau lebih cepat bergegas melakukan apa saja kebaikan di hari ini agar tak mewariskan beban bagi orang yang kau tinggalkan.
Ingatlah mati, maka bayangkanlah ingin seperti apa dirimu saat menemui Sang Pemilik Hidup Yang Abadi...?! Engkau ingin menghafalkan Al-Qur'an agar kelak mendapatkan derajat surga yang tertinggi? Atau ingin menjadi manusia penyabar & lapang dada sehingga mendapati pahala yang tak ada batasnya...?! Ingin menjadi manusia pemaaf hingga Allah memaafkanmu juga...? Atau seseorang yang dermawan yang menyedekahkan harta di jalanNya dalam keadaan apapun... hingga kau temui ia sebagai pemberi syafaat yang menjadi tabir dari panas api Naar yang membakar...?!
Maka mulailah melakukannya, tak perlu menunggu waktu yang lebih lama... karena kematian, kala waktunya datang...ia tak akan memberi penangguhan.
________________________________________________
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ
"Dan infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antara kamu; lalu dia berkata (menyesali), "Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)ku sedikit waktu lagi, maka aku dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. Al-Munafiqun: 10)
Malam. Sunyi menikam diam-diam. Saat ini dingin tengah menyelimuti sebuah desa di tengah lembah. Tenggelam dikitari lebat pepohonan, bebukitan dan lereng-lereng pegunungan memagari di sekeliling. Meski jauh dan tak terlihat, seperti bisa kurasakan desau angin malam yang bertiup lembut di sekitarnya. Desa kenangan, yang kesepian ditinggal pergi anak-anak penduduknya. Ah mungkin juga tidak. Benar, beberapa orang yang dulu menjejakkan kaki di tanahnya yang berdebu sejak kanak-kanak itu, satu persatu pergi dan menetap di tanah perantauan. Tapi konon, sekarang desa yang dulunya terisolir dari segala kemudahan di kota, pelan-pelan berbenah dan maju selangkah-selangkah.
Jalanan mulai dibeton, pertanda akses ke sana kini semakin mudah. Tak lagi seperti dulu, hampir sepanjang jalan terjal dan berbatu. Semakin banyak pengguna kendaraan beroda dua, motor matik sudah lumrah menjelajahi desa, anak-anak gadis tak takut lagi menunggangi kuda besi kesana kemari, menyambangi lembah dan jalan mendaki.
Perawakannya kecil dan cenderung kurus. Matanya selalu berbinar saat tersenyum, ekspresi yang lazim tampak darinya. Sebut saja namanya Iyat, teman SMA saat kelas 3. Meski tampilannya sederhana namun ia dikenal sebagai salah satu siswi yang cerdas di kelas. Aha... anak ini juga kalem dan pendiam. Entah lebih kalem mana dibanding saya saat itu, hehe. Ya, diantara anak kelas IPA satu yang gokil, ekspresif, ramah plus rame..., nyempil-lah beberapa orang kalem, diantaranya saya dan Iyat heheh.
Selain teman kelas, kami juga teman Rohis satu liqo' tarbiyah masa itu. Meski belum berjilbab, Iyat termasuk anak yang rajin ikut ngaji juga alim, bahkan terkesan lebih beradab ketimbang sebagian teman yang sudah berjilbab. Ya, nggak bisa dihubungkan sesimpel itu juga sih ya, antara pakaian dan akhlak, Tapi memang orang suka menghubung-hubungkan dan menyimpulkan demikian. Hm... kembali lagi ke karakter masing-masing ya..., dan sepertinya memang Iyat punya tabiat yang santun.
Kabut berkelebat
Hujan menari, diantara deras dan rinai.
Gelap itu..., mencekam, menikam.
Jiwa yang sendiri dan diam.
***
Malam makin larut, dan hujan pun kian deras. Saya di rumah seorang diri. Ayah dan ibu menghadiri resepsi kerabat kami sejak pagi, letaknya di desa tetangga. Tetangganya desa tetangga-tetangga-tetangga lagi 😂😂 Sedang kakak dan anak-anaknya berangkat ke Makassar sore tadi. Daaan saya sendirian hiks. Sekali-kali memikirkan, bagaimana jika di kuburan nanti. Bukankah akan benar-benar sendirian...?!
Ketika kehidupan seolah semakin serba sulit, menghimpitmu dengan tekanan dari berbagai sisi, melahirkan duka dan sakit yang terus beregenerasi...
Beristighfarlah...,
mungkin penyebabnya adalah tumpukan noda dosa yang hendak Dia bersihkan."Cobaan senantiasa menimpa seorang mukmin laki-laki dan perempuan, baik pada dirinya dan anaknya serta hartanya sehingga ia bertemu Allah tanpa membawa dosa." (HR. At-Tirmidzi).
Berdzikirlah...,
mungkin selama ini hati masih jauh dari mengingatNya.
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd: 28).
"(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram." (Ar-Ra'd: 28).
Beristirja'lah...,
kembalikan segala urusan yang tak pernah bisa kita kendalikan, pada Dzat yang Maha Mengatur Segala sesuatu.
"Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya, kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu." (Al-An'am: 17).
"Jika Allah menimpakan kemudharatan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya, kecuali Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Berkuasa atas segala sesuatu." (Al-An'am: 17).
Disini kehidupan bermula. Kematian. Ingatan tentangnya, segala yang mengingatkan padanya. Meski nyeri memikirkannya, ia adalah penyembuh bagi hati yang babak belur oleh duka. Kata yang sanggup mengembalikan hati yang terjebak di simpang jalan, agar kembali ke jalurnya.






