![]() |
| flickrdotcom |
Bersih banget..., batinku, setiap kali melewati kelas 2 Putra ketika hendak dan setelah mengajar di kelas lain. Kelas bersih dan rapi di jam-jam awal mungkin biasa, wajar, tapi kelas 2 Putra akan seperti sedia kala sekalipun usai jam makan.
"Muridnya diapain sih kak, kok bisa kelasnya bersih begitu. Mereka sendiri yang nyapu?" karena penasaran akupun bertanya pada kak Tari, wali kelasnya. Baru juga kelas 2, pikirku. Bahkan kelas 2 Putri masih rada berantakan kelasnya, hehe.
Apa yang membuat semua ini terasa berat...?
Mungkin hati yang baru belajar untuk kuat
Mungkin ragu yang belum terjawab
Mungkin cinta dunia yang masih mengakar
Cinta pada manusia yang masih mengular
Akhir yang indah itu
Ia yang kutuju
Kuseret-seret langkah, tertatih
Meski lelah, kadang lupa, nyaris putus asa
Tetap ia yang kutuju
Hampir hapus dari ingatanku tentang kisah-kisah pemilik jiwa agung yang menakjubkan. Berlalu banyak bilangan tahun kala kuakrabi lembaran-lembaran itu. Kisah yang berdebu dan tak banyak tersentuh, sedang kalimat-kalimatnya serupa kabar dari negeri antah berantah. Benarkah ada kisah serupa itu? Tanya anak manusia, yang terlahir ribuan tahun setelahnya, sebab tak pernah ia "baca" dalam nyata, di kehidupannya.
Hujan deras seolah melumat seluruh jejak siang yang terik tadi. Ponakan bermain bola di bawah guyuran air dari langit, bersama seorang kawan karibnya, di halaman yang lantas berlumpur. Ibu meneriakinya dengan sia-sia, mengingatkan bahwa ia bisa saja sakit dan ibu akan repot lagi, tapi rintik hujan lebih ribut, dan anak itu lebih asyik dengan bola ketimbang menyimak baik-baik kalimat sang nenek yang timbul-tenggelam di tengah hujan.
Masih hangat dalam ingatku kawan, kala itu, bergegas kita bangun di pagi yang dingin, membelah sunyi menyusuri jalan berumput yang masih basah oleh embun, membasuh tubuh kecil yang gigil dengan setimba air sumur atau limpahan sungai yang mengalir jernih.
Pagi selalu segar dan damai. Pada secangkir teh semangat itu dimulai, meski lain perkara..., jika kita sedikit abai mengerjakan PR atau tugas-tugas ekstrakurikuler dari guru yang kita hormati. Ah, tugas ekstrakurikuler, hanya aku yang menamainya begitu dan... ide itu baru kudapat kawan, bagaimana tidak, tugas yang kumaksud memang benar tak ada sangkut pautnya dengan kurikulum sekolah. Mengumpulkan seikat besar kayu bakar, kualitas terbaik bisa kita peroleh di tengah-tengah hutan, tak lupa melabelinya dengan sobekan kertas bertuliskan nama dan kelas. Mengingat ini rasanya kuingin meminta maaf pada ibu guru, kayu yang kutemukan kualitasnya rendah, hanya kayu lapuk yang kukumpulkan bersama seorang teman di pinggiran sungai.





