Hampir hapus dari ingatanku tentang kisah-kisah pemilik jiwa agung yang menakjubkan. Berlalu banyak bilangan tahun kala kuakrabi lembaran-lembaran itu. Kisah yang berdebu dan tak banyak tersentuh, sedang kalimat-kalimatnya serupa kabar dari negeri antah berantah. Benarkah ada kisah serupa itu? Tanya anak manusia, yang terlahir ribuan tahun setelahnya, sebab tak pernah ia "baca" dalam nyata, di kehidupannya.
Hujan deras seolah melumat seluruh jejak siang yang terik tadi. Ponakan bermain bola di bawah guyuran air dari langit, bersama seorang kawan karibnya, di halaman yang lantas berlumpur. Ibu meneriakinya dengan sia-sia, mengingatkan bahwa ia bisa saja sakit dan ibu akan repot lagi, tapi rintik hujan lebih ribut, dan anak itu lebih asyik dengan bola ketimbang menyimak baik-baik kalimat sang nenek yang timbul-tenggelam di tengah hujan.
Masih hangat dalam ingatku kawan, kala itu, bergegas kita bangun di pagi yang dingin, membelah sunyi menyusuri jalan berumput yang masih basah oleh embun, membasuh tubuh kecil yang gigil dengan setimba air sumur atau limpahan sungai yang mengalir jernih.
Pagi selalu segar dan damai. Pada secangkir teh semangat itu dimulai, meski lain perkara..., jika kita sedikit abai mengerjakan PR atau tugas-tugas ekstrakurikuler dari guru yang kita hormati. Ah, tugas ekstrakurikuler, hanya aku yang menamainya begitu dan... ide itu baru kudapat kawan, bagaimana tidak, tugas yang kumaksud memang benar tak ada sangkut pautnya dengan kurikulum sekolah. Mengumpulkan seikat besar kayu bakar, kualitas terbaik bisa kita peroleh di tengah-tengah hutan, tak lupa melabelinya dengan sobekan kertas bertuliskan nama dan kelas. Mengingat ini rasanya kuingin meminta maaf pada ibu guru, kayu yang kutemukan kualitasnya rendah, hanya kayu lapuk yang kukumpulkan bersama seorang teman di pinggiran sungai.
Rindu mengembara mencari arah. Ah, tidak. Ia tahu arah yang ia tuju, hanya sedang mencari pertanda yang menuntun langkahnya. Agar tak sesat, sebab jalan kian sepi. Hanya tapak-tapak jejak, ditinggalkan kebanyakan pejalan. Mereka, memilih jalan yang ramai, lagi bising penuh suara, ditingkahi puja juga cela, ada banyak dusta. Ia tak suka, hati yang tak suka.
Speaker masjid (bukan, tapi suara yang keluar dari speaker....) meningkahi senja yang gerimis. Tanah-tanah basah, dilimpahi hujan yang bersusulan beberapa hari ini. Senja lebih cepat gelap dan dingin dibuatnya. Angin lembut bertiup-tiup, entah penjuru mana yang ia tuju, dedaunan meliuk-liuk tak menentu.
Dua Sisi Kehidupan
Dua sisi mata uang, mungkin selalu menjadi perumpamaan yang paling tepat untuk menjelaskan keadaan sesuatu dengan adil.






