Rumahku, aku datang....
Membawa segala cerita
Bersama airmata yang ingin kutumpahkan
Atau senyuman yang ingin kusebarkan
Di sini, biarlah dulu seluruh warna bermuara
...
Rumahku, aku agak lama tak pulang
Banyak kisah terlewatkan
Berdesakan ingin dituliskan
Hati pun telah biru, di belakangnya berbaris pula rupa-rupa rasa
Sampai linglung aku, yang mana patut kudahulukan
Apa dulu yang baiknya kucatatkan
...
Rumahku, kau masih tempat yang paling nyaman
Teduh bersahabat bagi hati yang bagai pelangi
Tunggulah, kuhantarkan pelbagai cerita bermacam nuansa
...
^__^
Watampone, 24 November 2015
Kau pendosa. Kau penimbun dosa. Berapa usiamu sekarang? Ah, setinggi itu pula dosa yang kau kumpulkan, diantara sedikit kebaikan. Kau pendosa. Terimalah tuahmu sekarang.
Malam. Seperti biasa, engkau selalu diam. Seolah cukup bagimu sekadar menyaksikan..., kelelahan anak manusia, yang mencari ketenangan dalam hening dan gelapmu.
Malam. Dimana pun kau terasa sama. Sunyi yang kau bawa, sesekali menikam. Begitu juga dengan kehangatan yang kau titipkan, kala senja mulai meluruhkan bias panas mentari, dan hati bermain dalam mimpi-mimpi.
Siang.
siang yang panas.
bara serasa merata di seantero Indonesia
kering.
Musim penghujan, seharusnya sudah mulai
tapi di sini, di mana-mana, hujan debu yang ada,
hujan asap di beberapa kota
Tuhan, apakah azab yang tengah menimpa...?
#bukan puisi
#efek panas dan rindungeblog
#entardiedit
#nulisdaritab
siang yang panas.
bara serasa merata di seantero Indonesia
kering.
Musim penghujan, seharusnya sudah mulai
tapi di sini, di mana-mana, hujan debu yang ada,
hujan asap di beberapa kota
Tuhan, apakah azab yang tengah menimpa...?
#bukan puisi
#efek panas dan rindungeblog
#entardiedit
#nulisdaritab
Kini, aku di sini.
Di kota pertama ku eja aksara hidayah
Tempat membuncah asa
Remaja yang nanar menatap binar-binar cahaya
Kini, aku di sini
Masih terbata menyusun harapan yang berjuta
Tersadar bahwa semangat itu tak lagi sama
Kehilangan euforia yang lama
Tapi ada mimpi yang lebih indah untuk dibuat nyata
Di kota ini,
kota yang nyaris tak dirindui
Kenangannya mulai lapuk, bersama asa yang terganti
Tapi, masih...
masih tersisa jejak-jejak yang akan membawa kembali
Tentang hati, yang tak berhenti mencari
Watampone, 081015
Hari itu, aku lupa apa awal perbincangan kami di telepon hingga melebar pada topik yang tak biasa. Sesuatu yang masih dianggap terlalu remeh sebagai bahan obrolan bagi kultur kami, atau sesuatu yang 'tak perlu dibahas', meski banyak masalah berakar darinya.
Aku dan adik, tak terbiasa untuk berbicara dari hati ke hati, dengan siapapun dalam keluarga. Kami lebih sering saling merespon apa yang tampak di permukaan. Maka kusebut sharing ringan dengan topik mendalam itu sebagai 'berbicara dari otak ke otak'. Huaaa.... itu istilah apa...?! Meski terdengar aneh, tapi hampir sepenuhnya benar, karena kami berbicara dengan latar belakang ilmu yang kami miliki. Psikologi.





