"Sri... benar kamu akan menikah??? Menikah dengan siapa....???"
Aku tak tahu lagi mau menjawab apa saat ketua kelompok kajianku bertanya. Menikah dengan siapa? Pertanyaan itu lebih dalam dari kalimat yang tersirat. Mila sudah tahu dengan siapa aku akan menikah. Kak Eli pasti yang memberitahunya.
Aku hanya bisa pasrah, saat di chat berikutnya
Mila seolah menyesalkan sikapku. Biarlah. Ia tak tahu besarnya beban yang kuhadapi di dalam keluarga. Ada nama baik dan kehormatan yang harus dijaga. Di balik itu, ada harapan yang mulai kupelihara. Semoga yang terjadi adalah yang baik-baik saja...
"Tidak tahu mau ngomong apa lagi ukh, orangnya sudah mulai kajian juga kata kakak..."
"Sri, kamu segera ya menghadap ke kak Rani dan ke ustadz..."
"Ke mana dulu sebaiknya?" tanyaku, sembari membatin, untuk apa lagi aku menghadap, tak ada yang bisa diubah.
"Kamu ke kak Rani saja dulu, segera ya..."
***
"Afwan kak, ada yang ingin saya sampaikan... "
Dengan hati ragu, kuketikkan jari di kolom chat kak Rani. Seolah kak Rani sudah tahu, ia memintaku datang ke rumahnya. Aku semakin tak enak hati. Ya Allah, mudahkan.
Aku tertegun lama dan tak tahu mau bicara apa. Lidahku rasanya kelu. Takut salah kata.
"Sebetulnya sudah lama kami menunggu kamu, Sri..."
"Eh...?" aku terpana, sesaat tak tahu apa maksud pembicaraan kak Rani. Sejurus kemudian aku jadi paham, desas-desus tentang diriku sudah sampai di kalangan murabbiyah. Mereka berharap, aku terbuka dan meminta solusi, bukannya berdiam diri dengan kesulitan yang kuhadapi.
Aku pun menyampaikan dengan singkat tentang kabar lamaran sepupuku. Bahwa awalnya telah kutolak lewat kakak. Aku yang tidak dekat dengan bapak, meminta kakak menyampaikan agar pembahasan tentangku dihentikan. Tapi belakangan, tanpa sepengetahuanku, om datang melamar dan bapak telah mengiyakan.
Kak Rani lalu bercerita perihal salah seorang akhwat yang juga pernah dilamar oleh sepupunya. Tapi akhwat tersebut menolak dan pernikahan itu gagal terjadi. Kak Rani seolah memintaku untuk berjuang lagi, agar tak salah melangkah. Dalam hati aku tak bergeming, apa yang bisa kuubah?
Di lain sisi, kak Rani juga menyampaikan, menyesal telah menikahkan seorang akhwat dengan ikhwah yang usianya jauh lebih muda, sedang sang akhwat telah tegas tidak ingin bersuamikan pria yang lebih muda. Sekarang, suaminya banyak mengekang dirinya dari kegiatan dakwah.
Dari penjelasan kak Rani aku paham, bukannya akhwat anti dengan yang bukan ikhwah kajian. Namun dari pengalaman, menikah dengan ikhwah yang satu visi, satu frekuensi saja, tak menjamin kehidupan pernikahannya akan mulus, belum tentu ia akan mendapat dukungan terutama dalam kegiatan-kegiatan dakwah. Siapa yang bisa menjamin, saat menikah dengan ikhwah non kajian, seorang akhwat bisa istiqomah, bahkan menyatukan visi mungkin akan menjadi sulit karena bedanya pemahaman dan pandangan. Inilah yang menjadi kekhawatiran terbesar para akhawat, karena kebanyakan akhwat futur setelah menikah dengan yang tak se-visi, beda frekuensi.
In syaa Allah tidak, aku tidak akan menggadaikan agama setelah menikah, janjiku dalam hati.
"Temui ustadz, sampaikan kondisi ukhti..." saran kak Rani selanjutnya.
"In syaa Allah kamu bisa, Sri..." sahut kak Rani sambil merangkulku saat aku pamit pulang. Di pundakku terasa ada beban baru. Jelas kak Rani masih berharap agar aku berjuang kembali. Aku merasa tak enak, situasiku tak seperti akhwat tadi. Ya Allah, apa yang harus kulakukan...
***
Hari ini aku akan menghadap ke ustadz Irvan, murabbiku. Rasanya lebih gelisah. Apa yang mesti kukatakan, bagaimana nanti...? Ya Allah beri petunjuk, mudahkanlah urusan hamba.
"Sri, kamu sudah bilang ke kak Rani kalo calonmu sudah tarbiyah juga?" chat kak Eli.
"Belum, kak..."
"Kasih tahu yah.."
Ada beberapa lembar uang biru di dalam tas. Kutarik sebagian besarnya.
"Ukh, ini untuk sumbangan ya...," kuangsurkan uang tersebut pada ukh Ida, yang akan meneruskan donasi bencana. Kuniatkan semoga Allah mudahkan urusanku. Mungkin aku butuh uang itu, tapi kemudahan urusan dari Allah, jauh lebih kubutuhkan dari apapun saat ini. Aku betul-betul bingung harus bagaimana. Bicara pada akhwat saja rasanya aku gagap untuk urusan ini, terlebih lagi pada ustadz, dimana tidak pernah ada interaksi seperti ini sebelumnya.
Ya Rabb... saat ini aku tak punya tempat untuk mengadu, aku bersandar kepada-Mu ya Allah, tidak ada yang bisa mengeluarkanku dari kesulitan ini selain Engkau. Mudahkan yaa Allah.
***
"Kak, apa kemarin saya bilang kalo laki-lakinya sudah tarbiyah juga?" tanyaku ragu di kolom chat kak Rani.
"Tidak ukh. Segera ke ustadz saja dulu ya..."
"Iya kak...."
Kutanyakan pada kak Khaira, isteri ustadz, dimana dan kapan bisa menemui beliau. Sejurus kemudian chat-ku berbalas, ustadz ada di rumahnya.
***
Setibanya di rumah ustadz, yang kulakukan pertama kali adalah meminta izin ke toilet. Entah karena terbawa stres, aku kebelet buang air kecil.
Aku kemudian diminta duduk di ruang tamu, sehelai kain hijab membentang. Kak Khaira lalu meninggalkanku sendiri menunggu ustadz di balik hijab. Aku mulai tak tenang, lidahku rasanya kelu, harus bicara apa nanti.
"Ya, silakan..."
Terdengar suara ustadz di balik hijab. Aku kagok luar biasa. Sesuatu rasanya tercekat di tenggorokanku. Aku tak tahu mau mulai dari mana.
Detik-detik berlalu dengan kesunyian. Rasanya berat menggerakkan lidah ini. Untung ustadz tampaknya sedikit maklum dengan kesulitanku, mau bersabar menungguku berbicara.
Lama berjeda, mungkin jangkrik pun mulai bosan mengerik meningkahi sunyi. Ustadz mulai bertanya apa yang ingin kusampaikan. Sungguh, menunggu memang sangatlah membosankan, terlebih menunggu lawan bicara yang termangu tanpa suara.
Aku gelagapan. Berat... berat, berbicara langsung untuk kali pertama dengan murabbi sendiri karena kasus ini. Kusampaikan seadanya perihal kerabat yang datang melamar.
"...Dulu kita pernah ada beberapa kasus seperti ini. Laki-lakinya bersedia ikut kajian. Kita uruskan pernikahannya. Siapkan panitianya. Tapi ujung-ujungnya akhwatnya yang futur. Sudah beberapa kali kejadian, akhirnya kita memutuskan tidak akan lagi..."
"... pernah juga ada akhwat yang dijodohkan juga. Akhwat tersebut sampaikan masalahnya, lalu dikuatkan oleh akhwat lain. Bagaimana caranya agar pernikahannya batal. Kita dukung akhwat tadi agar berjuang. Lalu ditawarkan ke ikhwa, siapa yang mau selamatkan akhwat ini. Akhirnya majulah seorang ikhwa. Kita uruskan dan berhasil..."
_duh, Tadz... kenapa nggak kasih bocoran sebelumnya, ternyata ada solusi seperti itu toh_ batinku.
"... pertanyaannya apa yang ukhti katakan sama keluarga...?"
Aku hanya bisa tercenung, bingung ingin menjawab apa.
"... ukhti sudah iyakan tidak...? kuncinya sama ukhti ini..."
Di balik hijab aku hanya bisa tertunduk lemah,
"... sudah, Ustadz..," jawabanku rasanya tak lagi bertenaga.
"... nah itu...," ustadz terkekeh sesaat, entahlah... mungkin menyesalkan sikapku atau bagaimana, rasanya aku tak sanggup lagi berlama-lama.
Kesimpulan pertemuan itu, pembahasan telah berakhir, toh sudah kuiyakan. Ustadz Irvan hanya memberi sedikit wejangan dan penguatan, intinya agar tetap istiqomah dan berusaha mengajak suami (eh) nanti agar bisa sejalan di atas dien ini. Selebihnya ustadz memberi motivasi, bahwa ada juga yang akhirnya bisa seiring sejalan mengarungi jalan hijrah.
Aku pun berpamitan pada istri ustadz yang menemuiku setelah pembicaraan itu. Seolah... satu pundakku terbebas dari sebuah beban, satu pundak lagi terbebani beban yang lain.
Rabb, kadang-kadang aku rindu, kembali pada masa itu, masa dimana tak ada cinta duniawi mengisi hati ini. Aku rindu, saat-saat terendah yang telah kualami, yang memutus harapanku pada dunia, tapi justru mendekatkanku pada-Mu ya Allah... Hingga aku tak lagi peduli pada kebencian atau pengabaian orang padaku.
Rabb, aku rindu pada hari dimana kurindukan perjumpaan dengan-Mu. Andai telah Engkau ampuni dosa-dosaku di dunia ini, hati yang telah damai dengan keikhlasan pada takdir, hanya menginginkan segera berjumpa dengan-Mu.
Yaa... Rabb....
"Afwan, sebetulnya yang kemarin saya ceritakan itu tentang saya. Suami mau menceraikan, alasannya beda paham... "
Aku terpana.
"Saya sekarang tidak pernah keluar. Malu karena dia menceritakan ke semua warga kalau dia mau menceraikan saya lalu menikah."
Duh, hati suaminya terbuat dari apa ya. Bertahun-tahun menikah, kini dua dari empat anaknya pun telah menikah. Semuanya ngaji dan yang bungsu mondok di pesantren. Tega amat si bapak meninggalkan anak isteri demi wanita lain.
"Anaknya sudah nasihati tapi tetap tidak mau dengar."
"Sudah sidang yang pertama dan sudah mediasi, tapi tetap mau lanjut."
Sang isteri sudah ngaji juga, ini jadi poin pertama gugatan suaminya.
"Tapi itu cuma alasan saja karena memang sejak dulu suka main perempuan, tapi saya sabar menghadapinya."
Aku semakin melongo membaca chatnya. Ya, ibu sabar banget. Jika aku yang di posisi itu akan kutinggalkan tanpa banyak pertimbangan. Tak ada alasan untuk bertahan. Jika si laki-laki sudah tak baik, berarti saatnya untuk dilepaskan. Laki-laki tak baik hanya untuk wanita yang tak baik juga. Aku ngedumel sendiri dalam hati. Sambil berusaha memberikan saran terbaik, memintanya banyak berdoa agar diberi takdir terbaik. Walau ingin rasanya kukatakan, lepaskan bu. Biarkan yang menyakiti itu pergi dan tak lagi meninggalkan duri.
Apakah memang seperti itu hati lelaki? Sebagian atau sebagian besarnya? Mudah berpaling?
Mata. Mata yang tak terjaga. Mengumbar pandangan ke segala arah, adalah pintu syaitan yang terbuka lebar. Bukankah Allah telah memerintahkan kepada setiap lelaki beriman, agar menundukkan pandangan dari segala yang diharamkan. Menundukkan pandangan membuat hati tenang. Lebih menjaga kehormatan.
”Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)
“Ini adalah perintah dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambaNya yang beriman untuk menjaga (menahan) pandangan mereka dari hal-hal yang diharamkan atas mereka. Maka janganlah memandang kecuali memandang kepada hal-hal yang diperbolehkan untuk dipandang. Dan tahanlah pandanganmu dari hal-hal yang diharamkan.” (Tafsir Ibnu Katsir, 6/41)
Sayangnya, banyak yang membiarkan liar pandangannya. Gadget pun menjadi sarana paling mudah melihat banyak hal, termasuk hal yang diharamkan. Dan kaum wanita yang telah hilang rasa malunya, meliuk-liukkan badannya di berbagai aplikasi, di tik tok dan semisalnya. Membangkitkan syahwat lelaki yang bukan mahramnya. Na'udzubillah.
....
Kuhela nafas yang terasa berat. Jodoh masih misteri meski telah menikah rupanya. Tak ada yang bisa menjamin sebuah rumah tangga berakhir bahagia dan berkumpul di surga. Jika kedua insan tak lagi saling menguatkan, jika salah satunya berpaling dan meninggalkan. Jika salah satu atau keduanya terseret pada keinginan hawa nafsu dan duniawi. Jika keduanya tak lagi saling mencintai, tak lagi saling menjaga dan menyayangi.
....
“Perempuan yang keji adalah untuk laki-laki yang keji. Dan laki-laki yang keji untuk perempuan yang keji pula. Perempuan yang baik adalah untuk laki-laki yang baik. Dan laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik pula.” (QS. An Nur: 26)
Ya, manusiawi alias sunnatullah alias wajar saja, jika suatu waktu kamu menemui kegagalan, tak mencapai target yang ditetapkan. Kita bukan Tuhan yang bisa menentukan. Maka maafkanlah dirimu, disaat-saat seperti itu. Disaat semua orang mungkin akan menyalahkan dan menyesalkan, mengapa begini, tak seharusnya begitu. Ya, maafkan, sebab jika kamu ikut-ikutan menyalahkan diri, siapa lagi yang bisa menyayangimu, menerima rasa bersalahmu?
Mungkin benar, sebagian besar kata mereka di luar sana, bahwa kamu kurang ini kurang itu, usahamu belum maksimal, kamu terlalu lalai misalnya. Sampai di sini, koma saja dulu, katakan saja dengan jujur bahwa ini bagian terburuk yang akan segera berlalu bi idznillah. Maafkan dirimu, lalu berjanjilah bahwa hari esok dan seterusnya kamu akan lebih berusaha lagi. Berusaha lebih baik dan lebih giat. Benahi kelalaian dan kesalahan kemarin. Deal...?
Bismillah. Assalamu'alaykum, Nak. Bagaimana kabarmu di dalam sana? Tumbuhlah sehat dan kuat ya. Bersahabatlah sedikit dengan ummi yang kurang stabil akhir-akhir ini. Ah, ummi... Akhirnya aku akan menyandang gelar itu, In syaa Allah. Gelar yang membanggakan bagi semua wanita di dunia. Ya, semua yang masih pada fitrahnya.
Walaupun, ummi masih rada bingung. Yah, bingung dengan semua rentetan kejadian yang rasanya berlangsung sangat cepat. Ummi belum menyadari benar apa yang tengah terjadi, dan semua berlangsung demikian cepat rasanya. Tiba-tiba menikah, tiba-tiba positif hamil. Ummi merasa masih di bawah umur untuk mengalami itu semua, haha. Ayahmu (ummi gak tahu si bapak mau dipanggil apa, ayah, abah, atau etta hehe) pasti geleng-geleng kepala tahu pikiran ummi kayak gini.
Eh iya, tentang panggilan um/ummi, sebelumnya tuh, musyrifah/ustadzah tempat setoran hafalan online selalu menyapa dengan kata "um" setiap chattingan. Biasanya ummi bakal refleks meralat orang-orang yang suka panggil "um", kan belum nikah dan belum punya anak. Tapi nggak tau kenapa, ummi males ngeralat, bahkan diam-diam menganggapnya doa, mengaminkannya dalam hati. Mungkin sekarang lagi diijabah sama Allah. Aamiin.
Hm... Rupanya tak mudah ya menjalani trimester pertama kehamilan. Kata teman, puncaknya di bulan ke-3. Semoga Allah memudahkan dan menguatkan. Ayo kerjasama yang baik, Nak. Tumbuhlah dengan sehat dan bersahabat dengan kondisi ummi. In syaa Allah tanggal 12 bulan depan kita ke klinik lagi. Kata dokter kandungannya kamu sudah harus tampak jelas saat di USG.
"Datang ya, meskipun tanggal merah." pesan dr. Rahma, SPOg.
Nak, maafkan ummi yang kadang masih suka uring-uringan. Menuruti laju mood yang swing kesana kemari. Itu tidak baik. Perubahan hormon yang drastis sedikit membuat ummi kacau. Maka, setiap ummi merasa gagal menstabilkan diri dan sedikit khawatir padamu, ummi akan memegang perut sebelah kiri (yang kata dokter itu posisi kantong kehamilan) dengan tangan kanan, mengucap dzikir agar engkau baik-baik saja. Aamiin allahumma aamiin.
Anakku, semoga kamu baik-baik saja, tumbuh dan berkembang dengan sehat hingga kelak lahir dengan selamat. Perjalanan yang masih jauh, tapi ummi sangat berharap bisa berjumpa denganmu. Kamu adalah doa ummi jauh sebelum ini. Semoga Allah mengijabah. So, bersahabat dengan ummi ya Nak. Tak mudah menjalani momen pertama ini tanpa ayahmu di sisi. Semoga Allah mudahkan urusannya dan mengumpulkan kita bersama dalam waktu yang dekat. Aamiin allahumma aamiin.
Bumi Arung Palakka, saat langit berkabut dan Covid-19 jadi trending topic dunia.
#writing_is_healing
Bismillah. Seperti mimpi, apa yang kujalani hingga detik ini. Rasanya masih tak percaya. Saat kudengar dari balik pintu kamar yang terkunci, suara lantang seorang pria mengucap ijab qabul, rupanya dia berusaha menutupi kegugupan dan segala rasa yang turut berbaur. Aneh, tak ada debar luar biasa kala mendengarnya. Mungkin karena aku masih tak percaya, tak percaya jika ini benar nyata. Jangan-jangan ini mimpi saja.
Tapi tidak. Segala yang kulakukan adalah nyata. Gaun yang kukenakan, buket di tanganku, ibu di samping yang menenangkan kekhawatiranku, semuanya nyata. Akhawat panitia yang hilir mudik sibuk menyiapkan segala sesuatunya, semua nyata.
Tanggal 25 Januari 2020 adalah saat yang paling bersejarah bagiku saat ini, meski sesekali seolah tak kusadari, semua yang kujalani sepanjang hari. Mengapa jantungku tak berdegup kencang mendengarnya. Dia yang mengulang ijab qabul hingga dua kali.
"Sah...!" Seru satu dua hingga semua orang di luar kamar. Tapi aku masih merasa biasa saja. Aneh. Benar-benar aneh. Kemana hilangnya rasa gugup dan cemasku?
Salah seorang panitia membuka pintu, meminta ibu yang duduk di sampingku untuk keluar, karena dia, yang telah berstatus suamiku akan memasuki kamar. Aku sedikit gugup. Rasanya benar-benar tak menyangka. Akhirnya dia, yang Allah takdirkan menemuiku.
Pintu kembali terbuka, dan dan kudengar salamnya yang pertama kali, setelah berubahnya status kami. Aku sedikit gelagapan, tapi seperti biasa aku pandai menyembunyikan dan menahan apa yang kurasakan. Tetap tenang dengan posisi duduk seperti semula.
(Bersambung)

