Kawan, kau tahu apa yang paling getir dalam hidup ini? Ketika engkau rindu tuk kembali pada episode hidup yang dulu ingin kau tinggalkan. Ketika akhirnya kau tahu, kehidupan lama tidak lebih buruk dari yang engkau jalani sekarang. Bahkan rasanya ingin kau menertawakan dirimu yang kini menilai segala yang bertalian dengan masa lalu adalah sesuatu yang teramat berharga. Terperanjat saat mengingat bagaimana engkau berusaha sekuat tenaga membebaskan diri darinya. Dulu....
Apa kabarmu hati...? Telah lama aku tak mengajakmu bicara. Hm..., sepertinya banyak yang berubah. Ada yang hilang, juga bertambah. Mungkin sedang berproses menjadi lebih baik, kadang-kadang melangit, kadang-kadang terjun bebas, atau diam di tempat dengan malas.... Bagai gumpalan tanah yang dihempas-hempas, suatu waktu mengeras, suatu waktu terburai bagai remah yang hilang bentuknya, lalu menyatu..., dicetak menjadi wujud yang baru. Ah, bagaimanapun... aku selalu merasa ada yang pelan-pelan hilang.
Rindu mengembara mencari arah. Ah, tidak. Ia tahu arah yang ia tuju, hanya sedang mencari pertanda yang menuntun langkahnya. Agar tak sesat, sebab jalan kian sepi. Hanya tapak-tapak jejak, ditinggalkan kebanyakan pejalan. Mereka, memilih jalan yang ramai, lagi bising penuh suara, ditingkahi puja juga cela, ada banyak dusta. Ia tak suka, hati yang tak suka.
Selalu ada rindu yang menarikku ke sini
Di tempat mana aku melepas rasa, terburai lewat kata
Tak perlu kuragu pada tatap menelisik mengawasi
Karena di sini hatiku lepas berbicara
#just that
Air
Bebatuan...
Rumput...
Pohon...
Bunga...
...di atas tanah kelahiranku
Sawah...
Padang...
Semak...
Bebukitan...
Sungai...
Pegunungan...
Ladang...
...di atas tanah masa kecilku
Semua tentangmu,
bersama senyum dan tangisku...
diantara asa dan amarahku...
bahagia yang tak seberapa
duka yang merata
tetap, aku rindu...
(April'12)






