Aku ingi pergi, ke negeri-negeri yang berhujan salju. Ingin kucecap bulir es dan merasakan dinginnya musim hangat. Konon, kata adikku yang pernah menjejaki benua Eropa..., jangan kira musim panas itu udara juga lantas hangat, bagi penduduk negeri tropis rasanya tetep dingin.
Pagi adalah bagian hari yang paling damai. Aku memulai rutinitas dengan shalat subuh lalu mandi. Jika persediaan air di rumah menipis, kami harus cepat-cepat menuju sumur umum di tengah desa. Sebelum hari terang biasanya kami tiba di sana. Jika matahari telah menyingsing, sumur akan mulai ramai dengan penduduk desa yang juga hendak mandi, mencuci pakaian dan mengambil air. Meskipun cuaca masih dingin, air sumur di waktu subuh menjelang pagi terasa lebih hangat. Entah karena apa, tapi aku jadi lebih suka mandi di sumur sebelum matahari terlihat di timur.
Pfh..., subhanallah... seharian ini mood kurang baik, nyeri di perut bak ombak lautan yang datangnya pasang surut. Mo ngapa-ngapan bawaannya malees bangeet. Ngga ada pilihan selain membuka laptop mungil ini, mengintip beranda rumah hati yang mulai berdebu karena jarang dikunjungi, hiks. Ayo Menulis...! Writing to healing! Kali aja nyeri perut dan moodi-nya bakal hilang, aamiin.
Nulis apa ya... 😪... tik-tok-tik-tok-tik-tok...😖 *mikir kerass... 😓 😥 hm... 🙇 Okay! 🙆
Kita (lagi-lagi) akan sedikit melow kali ini, karena kita akan berbicara tentang "Cinta, Sahabat dan Keramaian." Judul yang syahdu dan... sedikit aneh ya! Hehe, tentu ada alasan dibaliknya.
Jodoh? Aku tak tahu jelas tentang itu. Hanya satu yang pasti, bahwa ia adalah misteri. Misteri yang Pasti. Nah, apa pulak itu?! Ya, jodoh itu adalah misteri yang telah dipastikan oleh Sang Pemilik Hati, bahwa ia adalah satu dari empat hal yang telah dituliskan atas tiap-tiap insan bahkan sebelum tangisan pertamanya rilis di dunia ini.
![]() |
| flickrdotkom |
Namanya Faishal. Awalnya, nama anak inilah yang paling terakhir tercatat dengan baik di ingatan jangka panjangku, padahal wajah dengan senyum manisnya yang meluluhkan hati itu, seringkali menyingkirkan wajah-wajah teman sekelasnya yang lain, masyaa Allah. Matanya menyipit, pupil matanya mengecil, lalu terbitlah senyuman paling bebas di kelas itu, yang kutafsirkan sebagai senyum paling tulus dan lepas. Rambutnya ikal, potongan cepak, perawakannya seperti kebanyakan anak seusianya.
"Ustadzah..., kalo capek menulis..., istirahat dulu..., tangan diginiin dulu (menggerak-gerakkan jari-jari tangannya)...? Nanti kalo nda capek lagi, menulis lagi...?!" Suaranya terdengar renyah dan manja di telingaku, selalu berhasil membuatku menoleh dan memperhatikan baik-baik ucapannya, lalu kujawab pertanyaannya yang lebih mirip penjelasan itu dengan senyuman dan anggukan. Dia akan mengatakan hal yang sama pada teman-teman di dekatnya, terlebih jika mendengar seorang siswa mengeluh atau menolak menulis.






