Hari itu, biasa saja, aku tengah menemani kakak ke rumah sepupu. Beberapa hari ini ia sibuk sekali menyiapkan keberangkatannya ke Seoul, ya negeri ginseng itu, buat short-couse kuliah S2-nya di universitas Yonsei (bener gak ini?). Nah, ini dia mau pinjam motor buat hunting barang dan perlengkapan. Duh, kuliah S2 bisa mahal sangat dan bergaya begitu ya... its just my feeling. Tiketnya meroket gara-gara rupiah anjlok, hitung-hitungan budget-nya setara dengan ongkos sekali umrah, kalo aku sih mending pergi umrah ya...hehehe.
Hari itu memang biasa, seperti hari-hari lainnya yang panas menjelang siang di kota Daeng. Kami mengobrol biasa dengan kakak sepupu, sebut saja kak Na.
"Ih pada ke luar negeri. Kamu jangan mau kalah dong. Nanti ke mana kek..."
Kak Na mulai memprovokasi. Dari tiga bersaudara hanya aku yang paling cinta Indonesia, hehe maksudnya gak pernah ke luar negeri. Jangan bicara luar negeri, aku bahkan tak pernah keluar dari Sulawesi Selatan ^_^. Ehm, kakakku sebetulnya baru kali ini juga mau nginjak tanah orang. Adikku sendiri lanjut kuliah di Inggris. Dan aku....
"Kamu ntar kuliah juga ke... Mesir tuh.."
Kak Na masih semangat mengompori. Egypt. Hm... aku teringat sewaktu SMA dulu. Saat tentor di tempat kursus bahasa Inggris menanyai kami satu per satu, negeri apa yang paling ingin kami kunjungi.
"Why...?" tanya kakak tentor. Nah sampai di sini aku lupa apa omongan Inggris-nya waktu itu ya. OMG! aku lupa hingga rumus-rumus dasarnya. Tak bersisa! Tapi aku masih ingat alasannya apa, karena yang kutahu tempat menimba ilmu agama yang paling keren di luar negeri waktu itu, ya Al-Azhar di Kairo. Aku tahunya dari sebuah majalah remaja Islami. Padahal ternyata yang paling keren tuh...
"Nggak, nanti aku bakal ke Madinah, sekalian umrah, hehehe.."
"Iya, umrah bareng ayah sama ibunya sekalian saja tuh...."
"Aamiin..."
Hingga entah apa benang merahnya, tiba-tiba kak Na melemparkan tanya,
"Dik S ini kenapa pake cadar segala sih...?"






