(Beberapa bulan yang lalu...)
Jadi, setelah sadar jika ada yang salah, aku lalu berusaha menenangkan diri agar bisa berpikir jernih. Ya Rabb..., aku juga kena? Akhirnya aku kena juga...?!
Rasanya masih sulit percaya, mmm.... tepatnya, masih tak ingin percaya. Tapi, sekalipun aku memejamkan mata, atau memelototi dengan seksama layar segiempat itu lagi, kenyataan tak akan berubah. Ya sudah, reviu materi iman lagi, tentang iman kepada takdir, pasnya... iman pada takdir buruk. Tema-tema seputar sabar, lapang dada, ikhlas menerima seluruh keputusan-Nya, berharap pahala dan ganti yang lebih baik dari musibah yang menimpa, peringatan bahwa musibah apapun masih terhitung ringan selama tidak menyangkut agama..., melingkar di benakku, silih berganti memberi petuah, saling sikut dengan perasaan syok luar biasa, lemas dan kecewa.
Rasanya ingin kukabarkan pada dunia:
kesedihanku hari ini, bahagiaku detik ini, tawa dan tangisku menit ini.
Rasanya ingin kukabarkan pada dunia:
betapa aku ingin dimengerti, betapa aku ingin terlihat dan dipuji, dan tak sudi kudengar maki.
Kau hanya tak tahu, berapa lapis karat yang menutupi hatimu, hingga Ia harus membasuhnya berkali-kali, dengan ujian... sakit... kesedihan... kehilangan... Agar ia bersih, agar bisa suci, dan engkau layak menemui-Nya tanpa membawa dosa lagi....
Ingatan ini kudapati di kotak memori belasan tahun silam. Di tahun-tahun awal berhijrah, saat hijab masih ala kadarnya, saat semangat sedang hangat-hangatnya, dan saat ilmu masih cetek-ceteknya (^___^).
Menangislah sekeras-kerasnya, tapi itu tak kan mengubah apa-apa, tak juga mampu kembalikan segala yang telah diambil-Nya
***
Ingin kulabuhkan seluruh rasa ini
ke tepian telaga penawar duka-Mu
biar tumpah-ruah hingga tak berbentuk, tak bernama
berbaur-baur amuk amarah dan damai jiwa
benci dan rindu menjadi satu
Ingin aku berlari dari cengkeraman atau kebebasan
yang merampas ketenangan dan sisa harapan
Aku ingin pergi, pergi jauh meninggalkan semua ini
seluruh kepenatan, riuh dan perih
Ingin kutinggalkan gaduh dan tawa
menujuMu di tempat yang tak mengenal sia-sia
di tanah mana aku lupa akan hasrat dunia
Rabb-ku....
pisahkan saja aku dari ramai dunia
yang meminta tumbal atas nama rasa dan cinta
....
Tapi kini seolah tak berjejak, tak terekam... riuh di sudut-sudut rumah, teriakan bersahutan, canda-tawa dan sesekali tangisan di sana....
Roda waktu seolah berputar terlalu cepat, tak terasa untuk sekadar menyadari perubahan dan kehilangan, ia menggilas rata seluruh duka dan bahagia dalam satu masa, menamainya dengan kenangan....






