Kau hanya tak tahu, berapa lapis karat yang menutupi hatimu, hingga Ia harus membasuhnya berkali-kali, dengan ujian... sakit... kesedihan... kehilangan... Agar ia bersih, agar bisa suci, dan engkau layak menemui-Nya tanpa membawa dosa lagi....
Ingatan ini kudapati di kotak memori belasan tahun silam. Di tahun-tahun awal berhijrah, saat hijab masih ala kadarnya, saat semangat sedang hangat-hangatnya, dan saat ilmu masih cetek-ceteknya (^___^).
Menangislah sekeras-kerasnya, tapi itu tak kan mengubah apa-apa, tak juga mampu kembalikan segala yang telah diambil-Nya
***
Ingin kulabuhkan seluruh rasa ini
ke tepian telaga penawar duka-Mu
biar tumpah-ruah hingga tak berbentuk, tak bernama
berbaur-baur amuk amarah dan damai jiwa
benci dan rindu menjadi satu
Ingin aku berlari dari cengkeraman atau kebebasan
yang merampas ketenangan dan sisa harapan
Aku ingin pergi, pergi jauh meninggalkan semua ini
seluruh kepenatan, riuh dan perih
Ingin kutinggalkan gaduh dan tawa
menujuMu di tempat yang tak mengenal sia-sia
di tanah mana aku lupa akan hasrat dunia
Rabb-ku....
pisahkan saja aku dari ramai dunia
yang meminta tumbal atas nama rasa dan cinta
....
Tapi kini seolah tak berjejak, tak terekam... riuh di sudut-sudut rumah, teriakan bersahutan, canda-tawa dan sesekali tangisan di sana....
Roda waktu seolah berputar terlalu cepat, tak terasa untuk sekadar menyadari perubahan dan kehilangan, ia menggilas rata seluruh duka dan bahagia dalam satu masa, menamainya dengan kenangan....
Hari itu, tak biasanya, saat aku menjemput salah seorang santri, sebut saja Nuri.
"Lewat jalan sini saja ustadzah..." tukas Nuri saat aku hendak berbalik ke arah sekolah, lewat jalan umum. Rupanya ada jalur pintas yang lebih dekat. Nuri pun dengan sigap memberiku instruksi, arah mana saja rute yang akan dilalui. Setelah melewati beberapa belokan kanan-kiri, sepeda motor ku pun meluncur mulus di jalan beraspal yang lumayan lurus. Dan disana lah kutemukan ia, lelaki tua itu. Pandanganku menangkap tubuhnya seorang diri di tepi jalan, bersimpuh di atas tanah, menghampar sejumlah kecil sayuran di hadapannya. Ia menatapku juga, tiba-tiba hatiku pilu. Ia akan melihat pada siapapun yang lewat di depan jualan kecilya. Seperti aku, yang saat itu hanya berlalu.
"Ah, bukankah aku sedang buru-buru," batinku. "Lagipula, mana aku tahu ada pedagang sayuran kecil di situ," kilahku.
Sejak itu bayangannya masih mengusikku. Kali pertama kulihat ia, tapi aku hampir saja menangis di buatnya. Tak bisa kulupakan, bayangan tubuhnya yang ringkih dan bergetar. Ya, tubuh kurus dan tua itu, dibalut helai pakaian yang lusuh pula, bergetar seolah menggigil. Seperti orang yang demam atau kedinginan. Mungkin juga karena tubuh tuanya di dera lelah termakan usia.
"Kemana sanak-saudaranya? Tak ada seorang pun kah dari kerabatnya yang bisa membantu menopang hidupnya, hingga tubuh tua yang bergetar itu terdampar di tepi jalan...?!" tak tahu pada siapa, kuajukan tanya dan gugatan.
"Mungkin sebaiknya, lain kali aku membeli sedikit dagangannya," dalam hati aku berjanji.
Hari kedua aku menjemput Nuri, dan aku masih butuh bantuan petunjuk anak itu, menembus lorong-lorong sempit yang tak bisa segera kukenali. Kali ini aku tahu, akan melewati jalan dimana lelaki tua itu berjualan. Ia masih di sana, di hadapan hamparan dagangan sayur yang tak seberapa. Masih dengan tubuh tuanya yang bergetar. Dan aku berlalu, lagi. Kusesalkan diriku yang tak bisa segera mengambil keputusan untuk sejenak berhenti. Dijepit antara keinginan segera tiba di sekolah, dan sedikit insting motif ekonomis yang menanyakan, "mengapa seolah tak ada yang membeli", atau "mengapa hanya sedikit yang ia jual"... Pikiranku masih berdiskusi, dan bayangannya telah mengabur di belakangku.
"Argh... tidak, lain kali aku harus membeli dagangannya, tak peduli apa yang ia jual, tak peduli pembeli tak ramai," Kali ini aku tegas berjanji. Gemas pada diri.
Lelaki tua itu, entah bagaimana kabarnya kini. Entah, apakah jualan sayurnya yang beberapa biji ada yang membeli? Telah lama aku tak melewati jalan itu lagi, sejak aku berjanji. Aku tak lagi menjemput Nuri yang menunjukkan jalan tempatnya berada. Dan aku masih menyesali, mengapa tak membeli, sekadar dua-tiga buah dagangannya.
Lelaki tua itu, seorang diri berjualan sayur di tepi jalan yang pernah kulalui. Jalan yang tak ramai, sebab letaknya di lorong sebuah perumahan yang kecil. Tak banyak dilewati. Dan aku masih dibayang-bayangi, tubuhnya yang ringkih dan bergetar. Pilu.
Rain... again... again....
Lagi, dan saya tak kan pernah bosan. Tak habis-habisnya tenggelam. Kali ini bukan dalam lamunan, tapi rasanya masih sama. Selalu demikian, terhenyak menekuri irama hujan. Ialah simfoni alam yang teramat syahdu, selalu memikatku untuk diam.
Semilir angin, udara yang dingin, tetes berirama ringan berjatuhan dari langit. Hm... serasa damai, sesekali rindu turut memanggil, padanya... rangkaian irama hujan yang mengalun lembut dan menggetarkan, mengirim salam dari masa-masa yang telah kutinggalkan.
"Allahumma shayyiban naafi'an...."
#pecintahujan






