Masa(lalu) Berat

By Ummu Thufail - Januari 12, 2025

Kata seorang terapis, beban emosi harus di release, emosi negatif harus keluar agar tak membusuk di dalam jiwa, menghambat gerak. Aku, kadang aku pun merasa tak baik-baik saja. Hampir setiap hari, atau memang setiap hari. Aku seperti bukan manusia normal pada umumnya, yang bisa beraktivitas dan berinteraksi dengan bebas tanpa beban dan halangan. Mungkin sudah lebih 10 tahun, aku merasa sebagai manusia yang tidak utuh. Sebelumnya pun sama saja, meski kondisi dan perasaan yang menyertai berbeda. Tapi belum pernah dalam ingatan, aku menjadi diri sendiri yang tanpa beban. Di manapun aku selalu merasa terbebani. 

Rupanya banyak beban emosi yang entah, mungkin tengah membusuk di bawah alam sadar. Tak pernah ku selesaikan, tak pernah ku bebaskan, hanya terpendam dan diabaikan, yang kadang muncul menjadi perasaan dan ingatan yang tak menyenangkan. 
Hampir tak ada fase hidup yang aman atau nyaman bagiku. Masa kecil/SD adalah masa terberat, diantaranya bullying dan sering dikucilkan tanpa tahu sebabnya apa. Hampir tiap malam aku mimpi buruk. Dan, kelas 5 SD pertama kalinya aku berpikir untuk menghilang atau diambil sesuatu. Suatu hari aku menangis dan tak peduli meski sudah jam pulang. Semua siswa pulang, aku menangis di kelas dan berharap ada sesuatu yang datang mengambil ku, atau kalo bisa, aku menghilang begitu saja. Sayang, guruku yg tinggal di mess sekolah mendengar/mengetahui kalo aku belum pulang. Dia menegurku tanpa perasaan, menyuruhku atau lebih tepat, mengusirku pulang. Aku benci bapak guru yang tak punya empati itu. 
Masa SMP adalah masa yg paling menggalaukan. Di sekolah tak nyaman, di rumah sering dibully dan diperlakukan tak adil oleh kedua tante, saudara ayah, yang selalu membela kakak. Kakak juga orang yang paling semena-mena. Aku ingat tante selalu memasakkan dan menyisihkan makanan/lauk yang spesial untuknya, melarang yang lain memakan lauknya, dengan alasan kakak tak bisa makan sembarang lauk. Tapi mereka tak peduli, saat aku sering makan nasi hanya dengan garam dan cabe, saat tak berselera dengan lauk biasanya. Tante juga sering mengamankan toples kue yang kubawa dr kampung/bekal dari ibu. Saat aku mencari toples yg kusimpan, tante rupanya yang mengambil dengan alasan buat disimpan olehnya, supaya tak cepat habis mungkin, tapi akibatnya aku tak bisa bebas memakannya, bahkan akhirnya habis meski bukan aku yang memakannya semua. Ternyata sejahat itu mereka kepadaku. Suatu malam entah karena masalah apa, yang pasti biasanya berkaitan dgn kakak yg selalu mereka bela. Sambil menangis aku turun ke bale2 di depan rumah panggung, mulai berpikir untuk bunuh diri, membayangkan bagaimana jika kutabrakkan saja badanku pada mobil yang mungkin lewat. Tiba-tiba si tante jahat itu datang menyusul sambil mencela, lalu memaksaku kembali ke rumah. Menulis ini aku baru tersadar lagi. Sejahat itu mereka. Sesakit itu aku. 
Masa SMA adalah masa yang paling terasing rasanya. Aku semakin kehilangan diri sendiri, sangat kehilangan percaya diri hingga prestasi menurun. 
Masa kuliah, aku semakin kehilangan diri, semakin kacau prestasi, bahkan sering absen hingga harus mengulang mata kuliah. 

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar