Rinai hujan semakin menderas, seolah meluruhkan segenap rasa memasuki tahun kelima, mengarungi bahtera yang ditakdirkan Sang Pencipta.
Genap lima tahun hari ini. Perjalanan yang tidak singkat, namun nyaris tak terasa, sampai juga di angka lima. Suka-duka mewarnai perjalanan, ada banyak cerita. Tawa, bahagia, kecewa, syukur, duka. Jelang tahun kelima diuji dengan ujian yang tak terbayangkan sebelumnya. Banyak airmata, lalu rindu kini menutupnya. Penghujung tahun kemarin adalah airmata yang belum kering. Masih terbata menata jiwa ditinggal pergi buah hati tercinta. Ahh, rasanya mata ini ingin kembali basah. Di sisi lain menaruh harap yang besar, kelak Allah memberi balas atas kesedihan dan kesabaran, atas kerelaan menerima takdir yang telah Allah tetapkan. Dia yang tercinta akan menunggui kami di depan pintu surga, lalu memasuki Baitul Hamd, rumah yang Allah perintahkan malaikat membangunnya untuk orangtua yang ditinggal buah hati lalu beristirja mengucap innalillahi, lalu bersabar, mengikhlaskan titipan yang Allah panggil kembali.
Lima tahun yang lalu, kita tak pernah tahu apa yang selanjutnya akan menjadi teka-teki kehidupan yang kelak dilalui. Dimulai dengan ijab qabul yang menggetarkan 'Arsy, telah berpindah tanggungjawab seorang bapak atas anak perempuannya ke pundak seorang suami atas isterinya. Di hari yang membingungkan itu, harapan pun belum panjang. Sungguh, tak pernah ku banyak bermimpi di saat itu. Namun, seiring waktu, semakin kubesarkan harap, ingin bahagia lebih lama, ingin pernikahan yang sakinah, ingin berkumpul bersama kelak di surga.
Lima tahun bersama tangis dan tawa. Masih belajar bagaimana memahami, belajar berkompromi. Pelajaran yang tak mudah karena tak pernah diajarkan di bangku sekolah dan kuliah. Terkadang gagal memahami dan gagal dipahami. Mungkin perjalanan ini masih jauh, semoga lebih mudah melaluinya, lebih banyak senyum dan tawa setelah tangisan di hari-hari sebelumnya. Semoga, berakhir di sebuah istana di surga. Aamiin.